Showing posts with label About Kuliah. Show all posts
Showing posts with label About Kuliah. Show all posts

Saturday, 10 June 2017

makalah Strategi Pengembangan Produk

Strategi Pengembangan Produk



BAB I Pendahuluan
1.1     Latar Belakang
Pengembangan produk baru atau menciptakan produk baru merupakan tugas yang sering terlupakan. Pada saat salah satu ataupun beberapa produk yang sedang dipasarkan itu berada pada tahap “kedewasaan” , maka pengusaha haruslah mulai memanfaatkan keuntungan yang diperolehnya dari produk yang berada pada tahap tersebut untuk mengembangkan ide penciptaan produk baru. Produk baru inilah yang diharapkan nantinya dapat menggantikan produk lama yang sedang jaya tersebut. Untuk alasan tersebutlah penulis membuat makalah dengan judul Pengembangan Produk.

1.2     Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :
1.      Apakah yang dimaksud dengan produk ?
2.      Sebutkan apa saja atribut – atribut produk ?
3.      Apakah yang dimaksud dengan pengembangan produk ?
4.      Apa saja tujuan pengembangan produk ?
5.      Bagaimanakah tahap – tahap dalam pengembangan produk ?
6.      Bagaimana proses pengembangan produk ?
  
BAB II PEMBAHASAN
2.1     Pengertian dari Produk
Produk merupakan salah satu aspek penting dalam variabel marketing mix, produk juga merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam kegiatan suatu usaha. Tanpa produk, suatu perusahaan tidak dapat melakukan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Banyaknya pesaing dalam dunia bisnis memerlukan suatu bentuk produk yang berbeda satu sama lainnya. Produk suatu perusahaan haruslah memiliki suatu keunggulan ataupun kelebihan dibandingkan produk yang dihasilkan perusahaan lain, dalam hal ini perusahaan pesaing.
 Suatu produk tidak dapat dilepaskan dari pemuasan kebutuhan dan keinginan konsumen. Suatu produk juga tidak dapat dikatakan memiliki nilai jual jika produk tersebut tidak menarik bagi konsumen untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai produk tersebut, para ahli mempunyai gambaran tentang definisi produk itu.
Pengertian produk menurut Kotler (2002:3):
Produk memiliki pengertian yang luas yaitu segala sesuatu yang ditawarkan, dimilki, digunakan, atau dikonsumsikan sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan termasuk didalamnya adalah fisik, jasa, orang, tempat, organisasi serta gagasan.
Sedangkan pengertian produk itu sendiri menurut Djaslim Saladin dan Yevis Marty Oesman  (2002:71) terbagi dalam beberapa pengertian, yaitu
Pengertian Produk adalah:
1.      Dalam pengertian sempitnya, produk adalah sekumpulan sifat-sifat fisik dan kimia yang berwujud yang dihimpun dalam suatu bentuk yang serupa dan yang telah dikenal.
2.     Dalam pemgertian secara luas, produk adalah sekelompok sifat-sifat yang berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible) yang didalamnya sudah tercakup warna, harga, kemasan, prestise pabrik, prestise pengecer dan pelayanan yang diberikan produsen dan pengecer yang dapat diterima konsumen sebagai kepuasan yang ditawarkan terhadap keinginan atau kebutuhan konsumen.
3.   Secara umumnya, produk itu diartikan secara ringkas sebagai segala sesuatu yang dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Dari beberapa definisi tentang produk tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa produk  adalah suatu bentuk barang atau jasa, yang ditawarkan dan telah dibuat sedemikian rupa untuk ditawarkan atau dijual, dimiliki, dan digunakan atau dikonsumsikan agar dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. 
2.2     Atribut – atribut produk.
Menurut Djaslim Saladin dan Yevis Marty Oesman (2002:72), produk dapat diklasifikasikan kedalam tiga kelompok:
1.         Barang tidak tahan lama (Non Durable Goods)
Merupakan barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan.
2.         Barang tahan lama (Durable Goods)
Merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak kali pemakaian.
3.         Jasa (Service)
Jasa bersifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan dan mudah habis.
Berdasarkan pengertian di atas, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa klasifikasi produk terbagi menjadi tiga yaitu barang tidak tahan lama (Non Durable Goods), barang tahan lama (Durable Goods), dan jasa (Service).
 2.3     Pengertian dari Pengembangan Produk.
Dalam dunia bisnis dan marketing, istilah pengembangan produk (product development) sudah lazim dibicarakan, dibahas dan dianalisis. Secara umum, pengembangan produk dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan perusahaan untuk menambah manfaat, ciri, desain dan layanan pada barang dan jasa.
Pengertian pengembangan produk telah banyak dikemukakan para ahli, antara lain ;
1.     Assaury (1996) mengatakan bahwa pengembangan produk (product development) adalah suatu kegiatan atau aktifitas yang dilakukan dalam menghadapi kemungkinan perubahan suatu produk ke arah yang lebih baik sehingga dapat memberikan daya guna maupun daya pemuas yang lebih besar.
2.     Stanton (1996) mengatakan bahwa pengembangan produk (product development) adalah suatu istilah yang terbatas mneliputi kegiatan teknis, seperti riset produk, rekayasa dan desain.
3.         Guiltinan (1991) mengatakan bahwa pengembangan produk (product develpoment) adalah suatu kebutuhan dan keinginan yang selalu berubah mengakibatkan adanya segmen baru atau adanya persaingan dan perubahan teknologi. 
4.   Sigit (1992) mengatakan bahwa pengembangan produk (product development) disebut juga merchandising adalah kegiatan-kegiatan manufacturer ( pembuat barang ) atau middlemen ( perantara ) yang bermaksud melakukan penyesuaian barang-barang yang dibuat atau ditawarkan untuk dijual atas permintaan pembeli.
5.    Kotler dan Armstrong (1996) mengatakan bahwa pengembangan produk adalah strategi untuk pertumbuhan perusahaan dengan menawarkan produk baru atau yang dimodifikasi ke segmen pasar yang sekarang.
6.   Dari berbagai pengertian pengembangan produk tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan produk adalah suatu usaha yang dilakukan perusahaan melalui perbaikan bentuk, penyederhanaan, pembentukan kembali, menambah desain atau model dengan tujuan untuk meningkatkan kepuasan konsumen atau pelanggan. 
2.4     Tujuan dari Pengembangan Produk.
Menurut Buchari Alma (2000:101) tujuan pengembangan produk adalah
1.         Untuk memenuhi keinginan konsumen yang belum puas
2.         Untuk menambah omzet penjualan
3.         Untuk memenangkan persaingan
4.         Untuk mendayagunakan sumber-sumber produksi
5.         Untuk meningkatkan keuntungan dengan pemakaian bahan yang sama
6.         Untuk mendayagunakan sisa-sisa bahan
7.         Untuk mencegah kebosanan konsumen
8.         Untuk menyederhanakan produk, pembungkus 
2.5     Tahap – Tahap Pengembangan Produk
Agar pelaksanaan pengembangan produk dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan, perlu diperhatikan tahap-tahap dalam melaksanakan pengembangan produk. Menurut Kotler (2002: 382) tahap-tahap pengembangan produk terbagi menjadi delapan tahap yaitu :
1           Idea Generation (Pemunculan Gagasan)
Tahapan ini merupakan pencarian peluang produk baru secara terus menerus dan sistematik. Tahapan ini dilakukan untuk menemukan gagasan-gagasan baru dan segara mengenai penciptaan produk. Metode untuk menciptakangagasan baru meliputi brain storming (sesi kelompok kecil untuk menstimulasi gagasan), melakukan analisa atas produk yang sudahada, ataupun melalui survei konsumen. 
2           Idea Screening (Penyaringan Gagasan)
Setelah perusahaan mengidentifikasi gagasan produk yang berpotensi, perusahaan harus menyaringnya. Dalam product screening, kekurangan, ketidakcocokan, atau gagasan yang tidak menarik lainnya harus disingkirkan dari tindakan lebih lanjut. Tujuan penyaringan adalah mengurangi banyaknya gagasan dengan mencari dan menghilangkan gagasan buruk sedini mungkin.
3           Concept Development and Testing (Pengembangan dan Pengujian Konsep)
Menguji konsep adalah menyajikan konsep produk kepada consumer dan mencoba mengukur sikap dan ketertarikan konsumer atas konsep awal pengembangan produk tersebut. Pengujian konsep merupakan cara yang cepat dan tidak mahal untuk mengukur minat konsumer. Pengujian dilakukan dengan meminta konsumer yang potensial untuk berinteraksi terhadap sketsa gambar atau deskripsi tertulis yang menggambarkan produk yang akan dikembangkan.
4.         Marketing Strategy Development (Pengembangan Strategi Pemasaran)
Pernyataan strategi pemasaran terdiri dari tiga bagian untuk memperkenalkan produk ke pasar. Bagian pertama menjelaskan ukuran, struktur, dan tingkah laku pasar sasaran, penempatan produk yang telah direncanakan, penjualan, bagian pasar, serta sasaran keuntungan yang hendak dicari pada beberapa tahun pertama. Bagian kedua dari pernyataan strategi pemasaran menguraikan harga produk yang direncanakan, strategi distribusi, dan biaya pemasaran selama tahun pertama. Bagian ketiga menjelaskan penjualan jangka panjang yang direncanakan, serta sasaran keuntungan dan strategi bauran pemasaran selama ini.
5.         Business Analysis (Analisis Bisnis)
Analisis Bisnis dan finansial dilakukan untuk menguji kelayakan finasialdan bisnis dari konsep pengembangan produk baru. Disini dilakukan analisa terhadap sejumlah aspek, seperti proyeksi permintaan pasar,perkiraan biaya produksi dan peta persaingan.
6.         Product Development (Pengembangan Produk)
Pengembangan produk mengkonversi ide produk baru menjadi bentukfisik dan sekaligus mengidentifikasi pola strategi pemasaran yang akanditerapkan. Fase ini mencakup konstruksi produk, packaging, pemilihan brand, brand positioing, dan usage testing. 
7.         Test Marketing (Pengujian Pasar)
Fase ini mencakup konstruksi produk, packaging, pemilihan brand,brand positioing, dan usage testing. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi kinerja produk dan efektivitas program pemasaran secara terbatas sebelum a full-scale introduction. Melalui ujipemasaran ini, perusahaan dapat melakukan observasi perilaku pelanggan secara aktual. Perusahaan juga dapat melihat reaksi yang dilakukan pesaing, dan juga respon dari para distribution channelmembers.
8.         Commercialization (Komersialisasi)
Setelah pengujian selesai, perusahaan siap untuk mengenalkan produknya ke pasar yang ditargetkan secara full scale. Sejumlah aspek yang perlu dicermati dalam tahap commercialization adalah kecepatan penerimaan konsumen dan para distributor, intensitas distribusi (berapa banyak toko penyalur), kemampuan produksi, serta efektivitas promosi, strategi harga, dan reaksi persaingan. 
Selain hal – hal diatas, point penting lainnya adalah Diferensiasi menjadi suatu strategi yang baik. Adanya diferensiasi menjadikan suatu produk memilki identitas yang khas dan unik. Sehingga menjadi pembeda bagi produk pesaing dan memungkinkan untuk sulit ditiru. Terkadang pula, perilaku konsumen yang sangat sensitif terhadap sesuatu yang baru dan beda, menjadikan suatu produk yang memiliki diferensiasi dengan produk pesaingnya sangat dicari konsumen.
Beberapa faktor tambahan yang menghalangi pengembangan produk baru adalah :
·           Kelangkaan ide penting pada wilayah tertentu
·           Pasar yang terfragmentasi
·           Batasan sosial dan pemerintah
·           Biaya pengembangan
·           Kelangkaan modal
·           Waktu pengembangan yang dibutuhkan relatif pendek.
Hal yang harus diperhatikan pula dalam pengenalan awal suatu produk baru adalah penentuan strategi harga produk tersebut. Dimana strategi harga ini diperlukan untuk meminimalisir resiko produk tersebut ditolak pasar, karena terlalu mahal atau bahkan terlalu murah. Berikut ada dua cara bagaimana menentukan harga dari produk baru : 
Ø  Penentuan harga mengambil sebagian pasar
Strategi ini pernah diterapkan oleh Intel ketika meluncurkan chip komputer terbaru. Mereka meluncurkan chip tersebut ke pasaran dengan harga $1000 per keping. Tentu saja harga ini hanya bisa dijangkau oleh segmen pasar kelas atas saja. Dengan harga yang tinggi, intel berusaha untuk mengambil hanya sebagian pasar yakni pasar kelas atas.
Ketika siklus produk mulai mengalami penurunan, akibat banyaknya pesaing serupa yang masuk dan penjualan mulai melemah. Intel menurunkan harga chip menjadi $200 per keping. Sehingga chip tersebut menjadi prosesor masal paling lari di pasaran. Dengan cara itu, intel mengambil pendapatan yang maksimum dari berbagai segmen pasar.
Ø  Penetapan Harga Penetrasi Pasar
Selain menetapkan harga yang tinggi untuk mengambil sebagian segmen pasar. Sebagian perusahan justru menggunakan harga penetrasi pasar. Dimana mereka memberikan harga yang relatif murah, sehingga penjualan produkpun meningkat. Tujuannya adalah agar perusahaan bisa menembus pasar secara cepat dan menarik banyak pembeli. 
2.6     Tahapan Srategi Daur Hidup Produk
Konsep daur hidup bisa dimanfaatkan oleh manajer agar bisa memahami dinamika produk dan pasar. Manfaat sesungguhnya bisa beragam tergantung dari situasi pengambilan keputusan. Sebagai alat perencanaan, konsep daur hidup produk bisa membantu memperjelas tantangan-tantangan pemasaran pada setiap tahap dan alternative estrategi apa saja yang bisa digunakan perusahaan. Sebagai alat pengendalian, konsep ini membantu perusahaan dalam membandingkan prestasi dengan produksi sejenis dimasa lalu.

TAHAP PERKENALAN
Pada tahap ini pertumbuhan penjualan lambat karena produk baru saja diperkenalkan dimasyarakat konsumen. Biaya sangat tinggi sehingga produk tidak menghasilkan keuntungan sama sekali. Untuk memperkenalkan suatu produk baru, memerlukan waktu yang sangat lama sekali untuk mengisi ke jalur distribusi dan mendorongnya pada berbagai pasar. Jumlah keuntungan yang diperoleh selama tahap ini sangat sedikit atau bahkan merugi yang diakibatkan oleh rendahnya hasil penjualan yang disertai dengan tingginyabiaya distribusi dan promosi. Untuk memperkenalkan fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor keperusahaan-perusahaan industry di wilayah Jawa Barat dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dan harus berkesinambungan dilakukan ke berbagai daerah. 
Strategi Memposisikan Tawaran Produk Kita dalam Tahap Perkenalan
Dalam meluncurkan produk baru, manajer pemasaran bisa menetapkan setiap variable pemasaran pada tingkat yang tinggi atau rendah, sepertidalam hal harga, promosi, distribusi dan mutu produk. Bila pertimbangan pokok hanya pada harga dan promosi, bisa dilakukan salah satu dari empat strategi :
Promosi
                                                Tinggi                                      Rendah
Tinggi Menyaring Cepat        Menyaring Lambat 
Harga              Rendah Penerobosan Cepat   Penerobosan Lambat

Karena fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) merupakanpelayanan public yang tidak mencari keuntungan secara financial tetapi untukmemenuhi kepentingan yang hendak dicapai pemerintah, maka dalam contohkasus berikut ini factor harga dikesampingkan, hanya mengutamakan factor promosi saja.
1           Strategi Menyaring Cepat
Dilakukan dengan menetapkan hargatinggi dan promosi gencar. Harga ditetapkan tinggi agar bisa diperoleh sebanyak mungkin laba kotor per unit. Promosi diselenggarakan besar-besaran untuk meyakinkan konsumen tentang nilai tinggi produk, walaupun dengan tingkat harga yang mahal. Promosi ini dimaksudkan untuk mempercepat laju penerobosan pasar. Strategi ini akan berhasil jika sebagian besar pasar potensial belum menyadarikehadiran produk itu, pasar berminat membeli mampu membayar dengan harga berapapun dan perusahaan menghadapi pesaing potensial yang ingin membangun referensi atas mereknya. .....

Strategi Pemasaran dan Tujuan Perusahaan

Strategi Pemasaran dan Tujuan Perusahaan


Setiap perusahaan mempunyai tujuan untuk dapat tetap hidup dan berkembang; tujuan tersebut hanya dapat dicapai melalui usaha mempertahankan danmeningkatkan tingkat keuntungan/laba perusahaan. Usaha ini hanya dapat dilakukan, apabila perusahaan dapat mempertahankan dan meningkatkan penjualannya, melalui usaha mencari dan membina langganan, serta usaha menguasai pasar.
Tujuan ini hanya dapat dicapai, apabila bagian pemasaran perusahaan melakukan strategi yang mantap untuk dapat menggunakan kesempatan atau peluang yang ada dalam pemasaran, sehingga posisi atau kedudukan perusahaan di pasar dapat dipertahankan dan sekaligus ditingkatkan.Hasil gambar untuk strategi pemasaran
Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu dibidang pemasaran, yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan.
Dengan perkataan lain, strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan persaingan yang selalu berubah. [2]
Oleh karena itu, penentuan strategi pemasaran harus didasarkan atas analisa lingkungan dan internal perusahaan harus didasarkan atas analisa keunggulan dan kelemahanperusahaan, serta analisa kesempatan dan ancaman yang dihadapi perusahaan dari lingkungannya. Di samping itu strategi pemasaran yang telah ditetapkan dan dijalankan, harus dinilai kembali, apakah masih sesuai dengan keadaan/kondisi pada saat ini. Penilaian atau evaluasi ini menggunakan analisa keunggulan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman. Hasil penilaian atau evaluasi ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah strategi yang dijalankan perlu diubah, dan sekaligus digunakan sebagai landasan untuk menyusun atau menentukan strategi yang akan dijalankan pada masa yang akan datang.

Saturday, 7 January 2017

Analisis profitabilitas

Analisis profitabilitas
Alasan Pengukuran Laba



Terdapat banyak alasan untuk mengukur keuntungan. Termasuk dalam hal ini adalah untuk menentukan kelangsungan hidup perusahaan, mengukur kinerja manajerial, menentukan apakah perusahaan mentaati atau tidak peraturan pemerintah, dan memberi tanda pada pasar terhadap kesempatan bagi pihak lain untuk menghasilkan laba.

Ukuran-Ukuran Laba

Pendekatan biaya serapan untuk mengukur laba

Biaya serapan atau biaya penuh diperlukan untuk laporan kepada pihak luar. Biaya serapan membebankan semua biaya manufaktur, bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, biaya overhead variabel dan pembagian biaya overhead tetap untuk setiap unit yang diproduksi. Dengan cara ini, setiap unit yang  diproduksi menyerap sebagian biaya overhead tetap pabrik, selain biaya variabel yang muncul selama proses manufaktur.

Terdapat beberapa kelemahan dalam pendekatan biaya serapan. Pertama,
terjadinya suatu manipulasi produksi untuk meningkatkan laba yang dilakukan oleh manajer pabrik untuk mendapatkan bonus akhir tahun atau promisi. Akibatnya, kegunaan laba operasi atau laba bersih sebagai ukuran profitabilitas melemah. Kelemahan kedua adalah bahwa formatnya tidak berguna dalam pembuatan keputusan. Perlakuan biaya overhead tetap sebagai biaya variabel di tingkat unit telah menyulitkan untuk melihat mana yang merupakan biaya tambahan.
Pendekatan biaya variabel untuk mengukur laba
Pendekatan biaya variabel hanya memperhitungkan biaya manufaktur variabel di tingkat unit terhadap produk, termasuk dalam biaya-biaya ini adalah bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel. Biaya overhead tetap diperlakukan sebagai biaya periode dan tidak dimasukkan dengan biaya produk lainnya. Namun, diperhitungkan sebagai biaya yang muncul di periode tersebut. Akibatnya adalah biaya-biaya yang diperhitungkan dalam biaya persediaan berkurang. Di bawah pendekatan variabel, hanya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead yang diperhitungkan sebagai biaya persediaan.
Laporan laba rugi dengan pendekatan biaya variabel memiliki kelebihan dalam memberikan informasi yang lebih baik tentang kinerja. Pendekatan ini juga memberikan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan manajemen.

Analisis Varian yang Berkaitan dengan Laba
Varian laba berpusat pada perbedaan harga, volume dan margin kontribusi aktual dengan yang dianggarkan. Varian laba dapat dihitung untuk tiap produk individual juga untuk produk secara keseluruhan.

Varian margin kontribusi
Adalah perbedaan antara margin kontribusi aktual dengan yang dianggarkan. Varian ini menguntungkan jika margin kontribusi yang dihasilkan lebih tinggi dari jumlah yang dianggarkan.

Varian volume penjualan
Adalah perbedaan antara jumlah penjualan aktual dengan jumlah penjualan yang dianggarkan dikali dengan margin kontribusi rata-rata per unit yang dianggarkan. Varian volume penjualan memberikan informasi kepada manajemen tentang laba atau rugi berkaitan dengan perubahan jumlah produk yang dijual.

Varian campuran penjualan
Merupakan jumlah perubahan unit yang dijual untuk tiap kali produk dikali dengan perbedaan antara margin kontribusi yang dianggarkan dan rata-rata margin kontribusi per unit yang dianggarkan.

Varian pangsa pasar dan ukuran pasar
Varian pangsa pasar merupakan perbedaan antara persentase pangsa pasar aktual dengan persentase pangsa pasar yang dianggarkan dikali dengan unit penjualan industri aktual yang dianggarkan kali rata-rata margin kontribusi per unit yang dianggarkan. Varian ukuran pasar adalah perbedaan antara unit penjualan industri aktual dan yang dianggarkan dikali dengan persentase pangsa pasar yang dianggarkan kali rata-rata margin kontribusi per unit yang dianggarkan.

Profitalibitas Segmen
Perusahaan secara teratur ingin mengetahui profitabilitas segmen bisnis. Segmen ini dapat berupa sebuah produk, divisi, wilayah penjualan, atau kelompok pelanggan. Menentukan laba dari subdivisi tertentu dalam perusahaan lebih sulit daripada menentukan laba keseluruhan karena perlunya biaya-biaya yang dialokasikan ke subdivisi tersebut. Tidak mudah menelusuri biaya yang akurat untuk tiap segmen. Tapi, pentingnya laba segmental ini bagi keputusan manajemen dapat membuat latihan-latihan ini menjadi berharga.

Waktu dan Laba
Kegunaan analisis profitabilitas tergantung pada jenis keputusan yang dibuat. Waktu memainkan peranan yang penting. Keputusan yang hanya berpengaruh jangka pendek memerlukan informasi yang berbeda dari keputusan yang berpengaruh jangka panjang. Jangka pendek adalah periode waktu dimana setidaknya terdapat satu biaya tetap. Jangka panjang adalah periode waktu dimana tidak ada biaya tetap, semuanya merupakan biaya variabel.

Siklus Hidup Produk
Dengan menggunakan pendekatan pemasaran, siklus hidup produk menjelaskan sejarah laba dari produk menurut empat tahap: perkenalan, pertumbuhan, pematangan, dan penurunan. Siklus hidup produk membantu pengamat pasar memahami tekanan persaingan yang berbeda terhadap produk dari setiap tahap. Oleh karena itu, adalah penting untuk merencanakan tujuan. Setiap tahap dari siklus hidup produk menunjukkan pengaruh yang dapat diperkirakan dari berbagai jenis biaya.

Pengaruh Laba Terhadap Perilaku
Adanya laba sangat mempengaruhi perilaku. Dapat diduga bahwa orang akan memilih mendapatkan laba daripada rugi. Pekerjaan mereka, promosi dan bonus tergantung pada laba tahunan, dan ketergantungan ini dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam cara yang diharapkan maupun tidak diharapkan. Sebagai seorang akuntan, adalah penting untuk menyadari bahwa pengukuran laba dapat mengarah ke insentif yang berbeda untuk tiap individu agar mereka bekerja lebih keras dan bertindak secara etis.

Pendekatan Non Diskonto
Pengukuran laba memiliki sejumlah keterbatasan. Ukuran-ukuran yang berbeda cocok untuk tujuan yang berbeda pula. Selain itu, juga terdapat kesulitan dalam memperoleh data. Penentuan batas waktu keputusan juga dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan. Keterbatasan lain dalam analisis profitabilitas adalah tidak dapat diramalkannya lingkungan ekonomi. Keterbatasan terakhir adalah penekanan laba pada ukuran-ukuran yang dapat dihitung.


Tuesday, 13 December 2016

Download GRATIS PDF materi Bahan Ajar Manajemen Operasional

DOWNLOAD GRATIS                                                    DOWNLOAD SEKARANG


Download GRATIS PDF materi Bahan Ajar Manajemen Operasional Di Sini

Sunday, 20 November 2016

LAPORAN BIOTEKNOLOGI PERTANIAN TENTANG Pengenalan Alat di Laboratorium Bioteknologi




*Ayo bantu Channel Youtube admin dengan menSUBSCRIBE kalian bisa klik DISINI.
1 SUBSCRIBE dari kalian sangat berarti bagi admin, sekali lagi TERIMA KASIH  sudah mampir dan support admin, enjoy reading guys.







LAPORAN BIOTEKNOLOGI PERTANIAN
“Pengenalan Alat di Laboratorium Bioteknologi”



OLEH :


NAMA           :AGUS SETIAWAN
NIM                : B1B1 15 010
KELAS          : AGT-C



PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANOAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
2016

I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka setiap bidang yang menyangkut pengetahuan dan teknologi pun akan mengalami perkembangan dan kemajuan. Salah satunya adalah bidang pertanian. Bioteknologi pertanian merupakan salah satu penerapan dari ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu teknologi dalam bidang pertanian. Bioteknologi mempelajari manfaat makhluk hidup (bakteri, virus, fungi dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa.
Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara-negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, cloning dan lain-lain.
Di bidang pertanian dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan rekombinan DNA, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta juga lebih tahan terhadap hama maupun tekanan lingkungan.
Bioteknologi pertanian memiliki laboratorium tempat dimana kegiatan pembiakan dan perakitan tanaman dilakukan. Dalam laboratorium tersebut terdapat berbagai macam alat yang memiliki fungsi cara penggunaan yang beranekaragam.
Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan nama, misalnya alat untuk mengukur seperti thermometer, hygrometer dan spektrofotometer dan lain-lain. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, seperti ithermograph, barograph.
Oleh karena itu, maka pentingnya dilakukan praktikum ini mengenai pengenalan alat laboratorium bioteknologi pertanian guna untuk lebih mengenal dan mengetahui alat yang akan digunakan pada laboratorium bioteknologi pertanian.
B.     Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dilaksanakannya praktikum kali ini adalah untuk mengenal alat-alat yang ada di laboratorium bioteknologi serta mengetahui fungsi dan cara penggunaannya, sehingga tidak terdapat kesalahan dalam menggunakan alat pada praktikum bioteknologi selanjutnya.
Kegunaan dilaksanakannya praktikum kali ini adalah agar dapat mengenal alat-alat yang ada di laboratorium bioteknologi serta mengetahui fungsi dan cara penggunaannya, sehingga tidak terdapat kesalahan dalam menggunakan alat pada praktikum bioteknologi selanjutnya.



II.    TINJAUAN PUSTAKA
Beberapa alat yang umum di gunakan dan harus di kenal serta diketahui cara penggunaannya antara lain autoklaf, kaca penutup, oven ,mikroskop medan terang, kulkas, pipet tetes, cawan petri, gelas ukur, tabung reaksi, timbangan analitik, inkubator, lampu bunsen, shaker,beaker glass, hot plate, stirrer, tabung erlenmeyer, loupe, haemasitometer, kaca obyek cekung, laminar air flow (Miliati,2010).
Sebelum melakukan praktikum hal paling utama yang harus di pahami adalah mengetahui nama alat-alat praktikum serta fungsi dan kegunaannya, agar kita dapat menggunakan semaksimal mungkin (Setiawati, 2006).
Pengenalan alat-alat ini meliputi macam-macam alat, mengetahui nama-namanya, memahami bentuk, fungsi, serta cara kerja alat-alat tersebut. Setiap alatdirancang atau dibuat dengan bahan-bahan yang berbeda satu sama lain danmempunyai fungsi yang sangat spesifik. Kebanyakan peralatan untuk percobaan-percobaan didalam laboratorium terbuat dari gelas. Meskipun peralatan-peralatantersebut telah siap dipakai, tetapi di dalam pemasangan alat untuk suatu percobaankadang kala diperlukan sambungan-sambungan dengan gelas atau membuatperalatan khusus sesuai dengan kebutuhan (Imam, 2006).                               Kebersihan alat-alat yang digunakan dan adanya ketelitian praktikan dalam melakukan pengukuran atau perhitungan yang dilakukan. Penggunaan alat-alat dalam laboraturium diharapkan dalam keadaan steril. Penggunaan alat-alat yang tidak steril dapat menyebabkan kegagalan pada pratikum yang dilakukan (Sudarmadji, 2007).
Oleh karena itu pengajaran sains buku teks memerlukan berbagai pendekatan praktek yang beragam dan cocok dalam pemakaian metode praktek laboratorium. Karena sebelummemulai melakukan praktik di laboratorium, praktikan harus mengenal dan memahami cara penggunaan semua peralatan dasar yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia serta menerapkan dilaboratorium. Berikut ini diuraikan beberapa peralatan yang akan digunakan dalam praktikum (Fatiqin, 2013).
III.             METODE PRAKTIKUM
A.    Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium In Vitro Unit Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, pada hari Senin, 03 Oktober 2016 pukul 10.00 – 12.00 WITA.
B.     Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah labu ukur, erlenmeyer, pipet micron, petri dish (cawan petri), gelas ukur, pipet Pasteur, beaker glass, botol kultur, botol schott, lampu bunsen, sikat tabung, magnet stirrer, pinset, cutter, gunting, scapel, timbangan analitik, hotplate, autoclave, LAFC (Laminar Air Flow Cabinet), oven, centrifuge, spatula, pH meter, alat tulis-menulis dan kamera.
C.    Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan pada saat praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengamati alat-alat laboratorium bioteknologi pertanian.
2.      Mengambil gambar setiap alat di laboratorium bioteknologi pertanian.
3.      Membuat laporan sementara untuk praktikum pengenalan alat-alat di laboratorium bioteknologi pertanian.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Hasil yang diamati pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
No

Nama Alat
Gambar Alat
Fungsinya
1
Labu ukur


Untuk menampung bahan kimia atau larutan dalam jumlah yang banyak
2
Erlenmeyer


Erlenmeyer digunakan dalam proses titrasi untuk menampung larutan yang akan dititrasi.
3
Petri dish


Cawan petri berfungsi untuk membiakkan (kultivasi) mikroorganisme.
4
Beaker glass


Untuk preparasi media media, menampung akuades dll.
5
Botol kultur


Untuk menyimpan media dan eksplan yang akan dikulturkan
6
Lampu bunsen


Untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen
7
Botol schott


Untuk menyimpan media dan eksplan yang akan dikulturkan
8
Gelas ukur


Berguna untuk mengukur volume suatu cairan. Gelas ukur memiliki beberapa pilihan berdasarkan skala volumenya.
9
Pipet mikron


Untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 μl
10
Pipet tetes


Untuk memindahkan beberapa tetes zat cair
11
Pinset


Untuk mengambil benda dengan menjepit misalnya saat memindahkan eksplan.
12
Cutter


Untuk memotong eksplan dalam ukuran besar
13
Gunting


Untuk menggunting eksplan atau mengambil plantlet
14
Scapel


Untuk membelah eksplan yang akan dikulturkan
15
Magnet stirrer


Untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan
16
Sikat tabung



Untuk menyikat atau membersihkan tabung yang telah digunakan
17
Spatula


Untuk mengambil bahan yang akan di larutkan
18
Centrifuge


Untuk memisahkan dan mengendapkan padatan dari larutan
19
Hotplate


Untuk dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi.
20
Autoclave


Untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15 menit.
21
Oven


Untuk sterilisasi kering alat-alat yang disterilkan
22
pH meter


Untuk mencek derajat keasaman / PH media
23
LAFC (Laminar Air Flow Cabinet)



Untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV beberapa jam sebelum digunakan.
24
Timbangan analitik



Untuk menimbang suatu benda atau objek pada skala yg kecil

B.     Pembahasan
Hasil pengamatan pada praktikum kali ini dimana melihat alat-alat laboratorium bioteknologi pertanian. Alat laboratorium tersebut memiliki fungsi sesuai dengan kegunaan masing-masing alat itu tersebut. Alat laboratorium bioteknologi pertanian, diantaranya labu ukur, erlenmeyer, pipet micron, petri dish (cawan petri), gelas ukur, pipet Pasteur, beaker glass, botol kultur, botol schott, lampu bunsen, sikat tabung, magnet stirrer, pinset, cutter, gunting, scapel, timbangan analitik, hotplate, autoclave, LAFC (Laminar Air Flow Cabinet), oven, centrifuge, spatula dan pH meter.
Erlenmeyer digunakan dalam proses titrasi untuk menampung larutan yang akan dititrasi.Erlenmeyer tidak dapat digunakan untuk mengukur volume.Berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang. Labu Erlenmeyer dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, dll.
Gelas ukur dapat terbuat dari gelas (polipropilen) ataupun plastik.
Fungsi Gelas ukur adalah untuk mengukur volume 10 hingga 2000 mL.Gelas ukur dapat digunakan untuk mengukur volume segala benda, baik benda cair maupun benda padat pada berbagai ukuran volume.
Pipet mikron adalah alat untuk memindahkan cairan yang bervolume cukup kecil, biasanya kurang dari 1000 μl. Banyak pilihan kapasitas dalam mikropipet, misalnya mikropipet yang dapat diatur volume pengambilannya(adjustable volume pipette) antara 1μl sampai 20 μl, atau mikropipet yang tidak bisa diatur volumenya, hanya tersedia satu pilihan volume (fixed volume pipette) misalnya mikropipet 5 μl. dalam penggunaannya, mukropipet memerlukan tip.
Beaker glass merupakan alat yang memiliki banyak fungsi.Di dalam bioteknologi, dapat digunakan untuk preparasi media media, menampung akuades dll.
Cawan petri berfungsi untuk tempat medium bagi eksplan.Medium dapat dituang ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai penutup. Cawan petri tersedia dalam berbagai macam ukuran, diameter cawan yang biasa berdiameter 15 cm dapat menampung media sebanyak 15-20 ml, sedangkan cawan berdiameter 9 cm kira-kira cukup diisi media sebanyak 10 ml.
Salah satu alat yang berfungsi untuk menciptakan kondisi yang steril adalah pembakar bunsen. Api yang menyala dapat membuat aliran udara karena oksigen dikonsumsi dari bawah dan diharapkan kontaminan ikut terbakar dalam pola aliran udara tersebut. Untuk sterilisasi bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru (paling panas). Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.
Hot plate stirrer dan Stirrer bar (magnetic stirrer) berfungsi untuk menghomogenkan suatu larutan dengan pengadukan. Pelat (plate) yang terdapat dalam alat ini dapat dipanaskan sehingga mampu mempercepat proses homogenisasi. Pengadukan dengan bantuan batang magnet hot plate dan magnetic stirrer seri SBS-100 dari SBS misalnya mampu menghomogenkan sampai 10 L, dengan kecepatan sangat lambat sampai 1600 rpm dan dapat dipanaskan sampai 425oC.
Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs) selama kurang lebih 15menit.
Oven Berfungsi untuk sterilisasi kering.alat-alat yang disterilkan menggunakan oven antaralain peralatan gelas seperti cawan petri, tabung reaksi, dll. serilisasi kerning dengan oven dilakukan dengan cara memanaskan dengan suhu 180oC selama 1 jam.
Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV beberapa jam sebelum digunakan.



V.    PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah alat laboratorium bioteknologi berfungsi sesuai dengan kegunaannya. Alat laboratorium bioteknologi, diantaranya labu ukur, erlenmeyer, pipet micron, petri dish (cawan petri), gelas ukur, pipet Pasteur, beaker glass, botol kultur, botol schott, lampu bunsen, sikat tabung, magnet stirrer, pinset, cutter, gunting, scapel, timbangan analitik, hotplate, autoclave, LAFC (Laminar Air Flow Cabinet), oven, centrifuge, spatula dan pH meter.
B.     Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum kali ini adalah dalam laboratorium bioteknologi masih banyak lagi terdapat alat-alat laboratorium di dalamnya, maka perlu diperhatikan agar tidak terlewat satupun dari alat-alat tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Fatiqin, Awalul dan F. Aini., 2013. Panduan praktikum mikrobiologi umum. IAIN
Raden Fatah. Palembang. 
Imam, K., 2006. Biokimia,nutrisi dan metabolisme. UI Press. Jakarta.
Millati, Tanwirul, 2010. Penuntun praktikum mikrobiologi industri. Fakultas
Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru.
Setiawati, 2006.Keamanan kerja labolatorium.Cahaya Pustaka. Semarang.
Sudarmadji, 2007. Penuntun dasar-dasar kimia. Lepdikbud. Jakarta.